
Hipertensi atau darah tinggi teryata bukan hanya menjadi penyakit biasa yang umumnya diderita oleh kalangan tua. Penyakit ini memiliki kontribusi yang besar terhadap peningkatan angka kematian di negara-negara berkembang, terutama di Indonesia.
"Kematian akibat gangguan penyakit ini akan meningkat sebesar 30 persen di negara-negara berkembang. Penyakit ini menjadi problem yang real dan terus bertambah baik di negara berkembang maupun negara maju," terang Dr P Tedjasukmana dalam konfrensi persnya di hotel Ritz Carlton, Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis (19/2/2009).
Penyakit yang diakibatkan oleh penebalan pada dinding pembuluh darah yang kemudian menyebabkan penyempitan pembuluh darah ini menyebabkan tidak lancarnya aliran darah yang mengalir ke seluruh organ tubuh manusia, termasuk jantung dan otak. Hal ini juga memicu timbulnya berbagai bentuk penyakit kardiovaskuler lain yang lebih berat seperti penyakit jantung koroner dan gangguan saraf otak yang memungkinkan terjadinya kematian.
Menurut Tedjasukmana, hipertensi sebagian besar disebabkan oleh gaya hidup manusia yang banyak dimanja oleh kemudahan-kemudahan.
"Coba lihat, kita ini terlalu banyak dimanja oleh kemudahan-kemudahan yang terjadi yang menyebabkan kita kurang bergerak, sehingga otot-otot dinding pembuluh darah pun menjadi kaku," jelas Tedja.
Menurutnya, kemudahan yang dimaksud meliputi kemudahan akibat kemajuan teknologi dan gaya hidup fast food yang banyak digemari yang pada akhirnya menyebabkan keengganan untuk bergerak. Padahal, dengan banyak bergerak seluruh otot-otot tubuh termasuk otot-otot pada pembuluh darah akan berkembang dengan baik sehingga mampu memperlancar aliran darah dalam tubuh manusia.
0 komentar:
Posting Komentar