
Jambi-(RK)-Buaya air tawar Sinyulong (Crocodylus prosus) sepanjang dua meter dan lebar satu meter yang ditemukan mati terperangkap di jaring ikan milik petani di Danau Sipin Kota Jambi, dikuburkan sekitar pemakaman Putri Ayu yang dikeramatkan warga setempat.
Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Jambi, Didy Wurdjanto di Jambi, Kamis (19/2) mengatakan, buaya tersebut dikubur di sekitar pemakaman Putri Ayu (Putri keturunan Raja pertama Jambi yang memimpin Kerajaan Jambi ratusan tahun lalu), karena warga menganggap kuburan itu keramat.
“Buaya Sinyulong dilindungi itu dikubur di sekitar pemakaman Putri Ayu, karena masyarakat menganggap kuburan itu keramat. Permintaan masyarakat itu kami ikuti saja,” katanya.
Buaya itu juga sebelumnya terperangkap di jaring ikan petani di danau yang sama, sementara Tempat Pemakaman Umum (TPU) yang juga tempat kuburan Putri Ayu berada di bantaran danau, sehingga warga mengaitkan buaya tersebut jelmaan Putri Ayu.
Buaya itu ketika tertangkap pertama kali, warga setempat banyak melihat kejanggalan, antara lain ditemukan seperti gelang membalut di tubuh buaya, lalu warga melepaskan kembali ke danau.
“Ketika buaya itu dilepas ada sejumlah warga menjadi kesurupan, sehingga muncul kepercayaan warga buaya itu adalah jelmaan Putri Ayu,” ujarnya. Masyarakat Jambi setiap tahun atau pada hari-hari tertentu atau pada hari baik dan bulan baik selalu menyempatkan waktu berziarah di makam Putri Ayu, karena dalam legenda masyarakat menganggap kuburan itu kramat yang bisa memberi keselamatan, rezeki, jodoh, dan sebagainya.
Buaya Sinyulong itu punya moncong lonjong agak keputihan, sehingga juga menjadi salah satu maskot Jambi setelah harimau Sumatera (Panthera Tigris Sumatrae). Buaya itu banyak hidup di Sungai Batanghari dan anak sungai seperti Danau Sipin hingga ke wilayah muara pantain timur Kabupaten Tanjung Jabung Barat dan Tanjung Jabung Timur Provinsi Jambi.
0 komentar:
Posting Komentar